IGD : 08112743119 Info : (0286) 479-030 WA : 08112992111 HotLine Keluhan : 08112517531

Kenapa Brace Dipasang di Kedua Kaki, Padahal Clubfoot Cuma di Satu Kaki?

tim_medsos | 4
Wednesday, 05 August 2026 10:52 WIB
rsemanuel-cover-news-2026/08/05/kenapa-brace-dipasang-di-kedua-kaki-padahal-clubfoot-cuma-di-satu-kaki
Gbr. Cover Kenapa Brace Dipasang di Kedua Kaki, Padahal Clubfoot Cuma di Satu Kaki? - RSEMANUEL ©2026

Banyak orang tua bertanya, “Kalau clubfoot hanya terjadi pada satu kaki, mengapa brace harus dipasang pada kedua kaki?” Pertanyaan ini sangat wajar. Dalam metode Ponseti, penggunaan brace seperti Denis Browne bar atau Mitchell brace pada kedua kaki bukan berarti kedua kaki mengalami kelainan. Kaki yang sehat justru digunakan sebagai penahan atau jangkar agar posisi kaki yang mengalami clubfoot dapat dipertahankan dalam posisi koreksi yang tepat. Tahap pemakaian brace ini sangat penting setelah kaki berhasil dikoreksi karena clubfoot memiliki kecenderungan untuk kembali ke posisi semula, terutama selama masa pertumbuhan anak.

Salah satu alasannya adalah efek jangkar (anchor effect). Kaki yang sehat membantu menjaga posisi batang brace agar tetap stabil ketika anak bergerak, menendang, atau tidur. Jika hanya kaki yang mengalami clubfoot yang dikunci pada brace, posisi koreksi akan lebih sulit dipertahankan karena kaki tersebut dapat bergerak sendiri dan berpotensi kembali berputar ke arah dalam. Dengan kedua kaki terhubung oleh batang brace, kaki yang sehat menjadi titik penahan sehingga kaki yang telah dikoreksi tetap berada dalam posisi yang diharapkan.

Brace juga berperan penting dalam mencegah terjadinya relaps atau kekambuhan. Walaupun bentuk kaki sudah tampak normal setelah rangkaian gips Ponseti dan, bila diperlukan, tindakan tenotomi Achilles, jaringan lunak pada clubfoot masih memiliki kecenderungan untuk kembali memendek dan menarik kaki ke posisi semula. Karena itu, brace digunakan untuk mempertahankan posisi koreksi dalam jangka panjang. Pemasangan pada kedua kaki membantu menjaga posisi abduksi kaki secara konsisten dan mencegah kaki yang terkena clubfoot kembali membengkok ke dalam selama periode pertumbuhan yang cepat.

Selain itu, setiap kaki memiliki sudut rotasi luar (outward rotation) yang telah ditentukan agar koreksi berjalan optimal. Pada umumnya, kaki yang mengalami clubfoot diposisikan dalam abduksi sekitar 60–70 derajat, sedangkan kaki yang normal berada sekitar 30–40 derajat, sesuai dengan jenis brace dan instruksi dokter. Perbedaan sudut ini bukan kesalahan pemasangan. Justru posisi tersebut membantu mempertahankan koreksi kaki yang sakit sekaligus menjaga agar kedua kaki dan batang brace tetap berada dalam posisi yang seimbang.

Batang brace yang menghubungkan kedua kaki juga membantu mempertahankan peregangan otot dan tendon, termasuk kompleks tendon Achilles, pada posisi yang telah dikoreksi. Hal ini penting karena tujuan brace bukan sekadar “menahan kaki”, tetapi mempertahankan hasil koreksi selama jaringan kaki beradaptasi dengan posisi barunya. Bahkan ketika anak sedang tidur dan tidak banyak bergerak, brace tetap bekerja mempertahankan posisi kaki. Karena itu, kepatuhan terhadap jadwal pemakaian brace yang diberikan dokter merupakan bagian penting dari keberhasilan metode Ponseti.

Jadi, meskipun clubfoot hanya terjadi pada satu kaki, brace tetap dipasang pada kedua kaki karena kedua kaki bekerja sebagai satu sistem. Kaki yang sehat berfungsi sebagai jangkar, sementara batang brace membantu mempertahankan posisi koreksi kaki yang mengalami clubfoot. Penggunaan brace yang tidak sesuai, termasuk melepasnya terlalu sering atau memodifikasi pemasangannya tanpa arahan dokter, dapat meningkatkan risiko relaps. Karena itu, orang tua sebaiknya mengikuti sudut pemasangan, durasi pemakaian, dan jadwal kontrol yang diberikan oleh dokter ortopedi anak yang menangani. Dengan penggunaan brace yang konsisten dan tepat, hasil koreksi metode Ponseti dapat dipertahankan lebih baik hingga anak tumbuh besar.

#EDUKASI